What's System Thinking

Berhenti Menyelesaikan Masalah yang Sama Setiap Hari
Chapter 0 - Mengobati Gejala Penyakit
Bayangkan kamu memiliki seorang teman yang setiap siang selalu mengeluh menderita sakit kepala kronis. Demi meredakan rasa sakitnya dia rutin menelan dua butir pil pereda nyeri setiap habis makan siang. Begitu obat itu bekerja, sakit kepalanya hilang sesaat dan dia kembali bisa bekerja menatap layar komputer dengan fokus. Sialnya rutinitas ini terus berulang tanpa ada garis akhir. Esok siangnya kepalanya kembali berdenyut keras dan dia harus kembali menelan obat yang sama persis. Temanmu merasa dia sedang mengambil tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah. Kenyataannya dia hanya sedang repot memadamkan kepulan asap tanpa pernah mencari tahu siapa yang terus menerus menyulut apinya dari belakang.
Kalau kamu meluangkan waktu sejenak untuk menyelidiki lebih jauh, kamu akan menemukan rantai masalah yang panjang. Temanmu sering sakit kepala karena dia selalu kelelahan dan kurang tidur. Dia kurang tidur karena punggung dan lehernya sering terasa nyeri di tengah malam. Punggungnya nyeri karena dia tidur di atas kasur tua yang pegasnya sudah rusak parah. Selama bertahun tahun temanmu menghabiskan banyak uang untuk membeli obat sakit kepala mahal, padahal satu satunya solusi permanen yang dia butuhkan hanyalah berjalan ke toko furnitur dan membeli kasur baru.
Kisah tentang teman dan kasur rusaknya ini adalah gambaran paling akurat tentang bagaimana mayoritas dari kita menyelesaikan tumpukan masalah hidup sehari hari. Kita terbiasa sibuk mengatasi akibat luar tanpa pernah berusaha mengurai sebab yang paling mendasar di bagian dalam. Di sinilah pemikiran sistemik atau pemikiran sistem hadir sebagai alat bedah yang tajam. Pemikiran sistem menuntut kita untuk berhenti mengobati gejala luar penyakit dan mulai mencari cara menyembuhkan sumber infeksinya.
Chapter 1 - Jaring Laba-laba Raksasa
Cara berpikir manusia semenjak dari bangku sekolah dasar didesain untuk melihat dunia sebagai sebuah garis lurus. Kita dijejali pemikiran linier di mana aksi tunggal pasti akan menghasilkan reaksi tunggal. Saat kamu merasa lapar kamu dianjurkan untuk segera makan. Saat angka penjualan kantormu anjlok drastis, respons spontannya adalah memangkas biaya operasional secara membabi buta. Pola pikir sebab akibat yang sangat sederhana ini sangat manjur untuk memecahkan masalah masalah teknis skala kecil.
Dunia nyata tempat kita merajut hidup tidak berjalan semulus jalur kereta yang lurus. Dunia nyata lebih menyerupai jaring laba laba ekologis raksasa di mana setiap titik saling terhubung dengan sangat erat. Saat kamu menarik satu utas jaring di ujung kiri dengan niat membetulkannya, getarannya akan merambat dan sangat berpotensi merusak struktur jaring di ujung kanan. Sebuah tindakan heroik dengan niat yang sangat baik sangat mungkin menciptakan rentetan bencana mematikan di tempat lain yang tidak pernah muncul di layar radar perkiraanmu.
Kisah nyata tentang Taman Nasional Yellowstone di dataran Amerika Serikat adalah contoh paling memukau tentang bagaimana sebuah sistem bernapas dan bereaksi. Pada awal abad kedua puluh, kelompok pengelola taman nasional tersebut secara sepihak memutuskan untuk memusnahkan populasi kawanan serigala. Tujuannya terdengar sangat masuk akal bagi akal sehat linier. Mereka ingin melindungi populasi rusa dan hewan herbivora lainnya dari ancaman pemangsa bergigi tajam. Pemikiran linier berbisik pelan bahwa hilangnya sosok serigala akan menyelamatkan lebih banyak nyawa satwa di area tersebut.
Keputusan itu ternyata memicu kehancuran beruntun yang mengerikan di tahun tahun berikutnya. Tanpa adanya ancaman serigala yang berpatroli, populasi kawanan rusa meledak pesat tak terkendali. Rusa rusa ini mulai bergerak sembarangan memakan habis tunas tunas pohon muda di sepanjang pinggiran sungai. Hilangnya vegetasi penahan air membuat struktur tanah menjadi rapuh dan memicu erosi hebat yang merusak keseluruhan aliran sungai. Hilangnya pohon pohon berkayu keras juga membuat populasi berang-berang ikut tersapu punah karena mereka tidak bisa lagi membangun bendungan alami. Hanya dengan menghilangkan satu spesies predator di darat, keseluruhan lanskap dan aliran air sungai di kawasan itu berubah total. Pengelola taman nasional akhirnya harus mengimpor kawanan serigala baru puluhan tahun kemudian demi memulihkan ekosistem yang sudah terlanjur hancur lebur.
Chapter 2 - Berhenti Menyalahkan Orang Lain
Kemampuan melihat jaring laba laba raksasa yang tidak kasat mata ini akan mengubah total cara pandangmu di dunia kerja. Apabila kamu memimpin sebuah tim dan melihat barisan anggota timmu terus menerus melakukan kesalahan yang sama persis, insting pertamamu pasti ingin segera memarahi mereka di depan umum. Kamu langsung berasumsi bahwa mereka pemalas, kurang teliti, atau tidak punya motivasi kerja. Kamu kemudian sibuk menyelesaikan masalah dengan memberikan sesi pelatihan tambahan atau surat peringatan beruntun.
Seorang ahli manajemen kualitas bernama W. Edwards Deming pernah mengeluarkan sebuah kesimpulan yang sangat menyadarkan. Dia menekankan bahwa sistem yang buruk akan selalu berhasil mengalahkan orang yang baik. Apabila masalah yang sama berulang kali menjangkiti orang yang berbeda beda di divisimu, kamu tidak sedang berhadapan dengan masalah kelalaian karakter manusia. Kamu sedang berhadapan melawan sebuah sistem yang rapuh.
Sistem yang rapuh ini bentuknya bermacam macam wujudnya. Kondisi ini bisa berupa alur komunikasi yang berputar putar terlalu panjang sehingga inti pesan sering hilang. Kondisi ini bisa juga berupa indikator kinerja utama yang saling bentrok antara departemen desain dengan departemen penjualan. Memarahi barisan karyawan karena mereka menjalankan prosedur yang membingungkan sama persis seperti memarahi seekor ikan yang kesulitan berenang cepat di dalam kolam berlumpur pekat.
Pemikir sistem tidak akan pernah menghabiskan energinya yang berharga untuk meneriaki ikan yang kebingungan. Pemikir sistem akan duduk tenang dan fokus mencari tahu dari mana lumpur pekat itu berasal serta menyusun rencana penjernihan air dari hulu sungainya. Pola pikir ini sangat melegakan karena otomatis membebaskanmu dari kebiasaan buruk menyalahkan diri sendiri. Saat kamu selalu gagal mempertahankan niat membaca buku harian, sumber masalahnya mungkin bukan karena kamu mewarisi sifat pemalas. Masalah terbesarmu mungkin sistem penempatan buku bukumu yang tersembunyi jauh di dalam lemari dan selalu kalah cepat bersaing dengan ponsel pintar yang tergeletak pasrah tepat di atas bantal tidurmu.
Chapter 3 - Menemukan Titik Ungkit
Mengadopsi pemikiran sistemik sama sekali tidak memaksamu memikul beban memperbaiki seluruh kerusakan alam semesta secara bersamaan. Tujuan utama dari proses mengurai sistem yang ruwet adalah untuk mencari satu elemen spesifik yang memegang kendali paling krusial. Elemen penentu putaran sistem inilah yang sering diperkenalkan dengan istilah titik ungkit.
Titik ungkit bekerja meniru fungsi roda gigi paling kecil yang terselip jauh di kedalaman mesin sebuah jam dinding antik. Roda gigi ini ukurannya tidak seberapa menonjol jika dijejerkan dengan jarum panjang penunjuk waktu di bagian paling depan. Tetapi satu putaran kecil yang konsisten dari roda gigi mungil tersebut mampu memutar keseluruhan mekanisme mesin jam raksasa tanpa henti. Menemukan titik ungkit memaknakan upaya mencari tindakan paling sederhana yang bisa menyumbangkan dampak positif paling masif ke seluruh penjuru jaring laba laba kehidupanmu.
Proses melacak keberadaan titik ungkit ini menuntut kedisiplinan dirimu untuk mundur satu langkah menjauhi medan masalah. Seringkali kita kesulitan menangkap wujud solusi utuh karena hidung kita menempel terlampau dekat pada inti masalah tersebut. Pikiran jernih kita terus menerus ditenggelamkan dalam kubangan amarah, rasa lelah fisik yang menumpuk, dan tekanan tenggat waktu yang mencekik napas harian. Kamu wajib menarik paksa pikiranmu keluar dari keruwetan itu dan melihat hamparan petanya dari atas gedung tinggi.
Terapkanlah mulai detik ini. Setiap kali kamu diadang oleh situasi konflik yang berputar putar tiada henti mirip putaran kaset lawas yang rusak, berhentilah bereaksi spontan secara emosional. Tarik napas sangat panjang dan mundur satu langkah besar secara mental. Analisa masalah tersebut secara mendalam sebagai bagian utuh dari tarian panjang yang komponennya saling menyentuh dan memengaruhi satu sama lain. Kamu akan segera menemukan kejernihan luar biasa saat kamu berhasil mendeteksi sumber penyakit utama dan tidak lagi sudi repot repot sibuk mengoleskan salep pada gejala luar yang menipu mata.