How human & Other species Thinking

What people misunderstand about survival through an exploration of human cognitive evolution, the interplay between instinctive reactions and rational thinking, and the power of metacognition in navigating modern anxiety.
Mengapa Kucingmu Lebih Pintar Menghadapi Hidup Ketimbang Kamu
Chapter 0 - Kepanikan Tanpa Sebab
ada yang punya kucing?

Kucing peliharaanmu mungkin sedang meregangkan badan di atas karpet ruang tamu saat ini untuk menikmati pantulan sinar matahari sore. Matanya setengah terpejam dan napasnya teratur. Dia baru akan melompat kaget dan merasa stres saat mendengar suara petir yang menggelegar atau melihat anjing asing menerobos masuk ke halaman rumah. Begitu ancaman fisik itu hilang dan suasana kembali sepi, dia akan kembali meringkuk dan tidur pulas. Tidak ada sisa kecemasan di wajahnya. Dia tidak menghabiskan sisa harinya dengan trauma berkepanjangan memikirkan apakah anjing itu akan kembali besok pagi atau minggu depan.
Sekarang coba bandingkan dengan dirimu sendiri :D. Kamu sedang duduk dengan secangkir kopi di tangan yang mulai mendingin. Tidak ada harimau liar yang berkeliaran di ruang tamumu. Tidak ada ancaman fisik yang membahayakan nyawamu detik ini. Kondisi ruanganmu sangat aman dan nyaman. Kelopak matamu terasa berat dan bahumu tegang. Jantungmu berdebar lebih cepat dari biasanya dan perutmu terasa sedikit mulas mungkin… jika kamu laper. Kamu sedang mengalami stres tingkat tinggi hanya karena memikirkan tumpukan email dari atasan, tagihan paylater bulan depan, dan presentasi penting yang bahan tayangnya belum selesai.
Perbedaan sederhana antara rutinitas santai kucingmu dan kepanikan tanpa sebab di kepalamu adalah celah terbaik untuk mengintip bagaimana otak manusia bekerja. Spesies lain merespons dunia ini apa adanya. Mereka bereaksi terhadap realita objektif yang bisa disentuh, dilihat, dan dicium. Manusia berdiri sendiri sebagai satu spesies yang sanggup menciptakan neraka dan kepanikan di dalam kepalanya sendiri melalui hal hal yang belum terjadi.
Chapter 1 - Ilusi di Dalam Kepala
Yuval Noah Harari lewat bukunya Sapiens menyoroti sebuah lonjakan aneh dalam proses evolusi kita yang dia sebut sebagai revolusi kognitif. Manusia mendadak mendapatkan kemampuan ajaib untuk membicarakan dan mempercayai hal hal yang wujud fisiknya sama sekali tidak ada di alam semesta ini. Kita menciptakan konsep uang, struktur perusahaan, batas negara, tenggat waktu, dan kekhawatiran tentang hari esok.

Kemampuan meyakini fiksi bersama inilah yang membuat manusia bisa saling bekerja sama dalam skala jutaan orang untuk membangun peradaban yang rumit. Seekor kera tidak akan pernah mau memberikan pisang miliknya hari ini dengan imbalan janji bahwa kamu akan memberinya sepuluh pisang bulan depan. Kera hanya hidup untuk hari ini. Manusia bersedia menukar waktu dan energinya hari ini untuk sebuah lembaran kertas bernama uang dan sebuah konsep masa depan bernama masa pensiun.
Kehebatan kognitif itu datang sepaket dengan efek samping yang amat melelahkan. Kemampuan kita membayangkan masa depan yang belum terjadi membuat kita mampu mencemaskan skenario terburuk yang mungkin tidak akan pernah terjadi sama sekali. Kecerdasan kita untuk mengantisipasi bahaya seringkali membajak sistem saraf kita hari ini. Tubuh kita merespons ilusi di dalam kepala dengan tingkat kepanikan yang persis sama seolah ilusi itu adalah ancaman fisik di depan mata. Otak kita sangat brilian dalam memproyeksikan masa depan, namun sangat payah dalam membedakan mana ancaman imajinasi dan mana ancaman nyata.
Chapter 2 - Bereaksi Bukan Berpikir
Masalahnya bertambah pelik karena perangkat keras di dalam tengkorak kita ini merupakan hasil tambal sulam evolusi ribuan tahun. Kita masih membawa warisan otak reptil dari nenek moyang kita yang hidup di padang sabana. Bagian otak paling primitif ini dirancang murni untuk urusan bertahan hidup. Saat nenek moyang kita mendengar suara semak belukar yang bergerak, otak ini tidak menyuruh mereka berdiskusi. Otak ini langsung memompa hormon adrenalin dan menyuruh mereka memilih antara melawan atau lari secepat mungkin.
Daniel Kahneman dalam karyanya Thinking Fast and Slow membelah cara kerja pikiran kita ini menjadi dua sistem yang saling tarik menarik. Sistem pertama beroperasi secara otomatis, sangat cepat, dan sepenuhnya mengandalkan impuls refleks. Ini adalah sistem peninggalan masa lalu yang membuatmu refleks menarik tangan saat menyentuh panci panas atau membuatmu bisa mengemudi pulang ke rumah tanpa perlu mengingat setiap belokan.
Sistem kedua adalah kebalikannya. Sistem ini bekerja dengan sangat lambat, menuntut usaha keras, dan sangat logis. Kamu menggunakan sistem kedua ini saat harus menghitung pengeluaran bulanan atau menyusun strategi bisnis yang rumit.
Kekacauan hidup kita di era modern sering bermula dari ketidakmampuan menempatkan dua sistem ini pada porsi yang pas. Dunia modern penuh dengan masalah rumit yang menuntut analisa mendalam. Kita dituntut menggunakan sistem logika yang lambat untuk memecahkan urusan pekerjaan dan hubungan sosial.
Namun laju informasi saat ini bergerak terlalu cepat. Ratusan notifikasi masuk ke ponselmu setiap hari. Berita buruk dari seluruh penjuru dunia disiarkan langsung ke layar di genggamanmu. Algoritma media sosial terus menerus membombardirmu dengan konten yang memancing reaksi emosional. Tubuhmu tidak dirancang untuk menerima stimulasi sebanyak ini dalam waktu yang bersamaan. Saat beban pikiranmu melebihi kapasitas, sistem logismu akan kehabisan tenaga dan menyerah. Di titik itulah sistem refleks otomatis mengambil alih seluruh kendali pikiranmu.
Kamu merasa sedang berpikir keras memecahkan masalah, padahal kamu hanya sedang bereaksi dan memukul balik setiap tekanan yang datang kepadamu. Kamu membalas pesan menyinggung dari rekan kerja dengan amarah impulsif. Kamu mengambil keputusan finansial tergesa gesa karena panik melihat pencapaian orang lain di media sosial. Kamu bertindak sama persis seperti hewan yang merasa terpojok dan insting bertahan hidupnya mendadak menyala penuh.
Chapter 3 - Senjata Rahasia Kesadaran
Kabar baiknya manusia dibekali satu senjata rahasia yang tidak dimiliki oleh satupun makhluk lain di bumi. Kita memiliki lapisan kesadaran ekstra berupa kemampuan untuk mengamati proses berpikir kita sendiri yang sering disebut sebagai metakognisi.
Lewat metakognisi kamu bisa melihat isi kepalamu seperti seorang penonton yang duduk tenang di barisan paling belakang sebuah bioskop. Kamu bisa menyadari bahwa kamu sedang merasa cemas tanpa harus larut dan tenggelam di dalam pusaran kecemasan itu. Kamu bisa menangkap basah dirimu sendiri yang nyaris mengambil keputusan bodoh karena terbawa emosi sesaat. Kesadaran ekstra ini memberimu jarak yang aman antara sebuah pemicu dan respons yang akan kamu berikan.
Metakognisi mengizinkanmu melakukan pembicaraan dengan dirimu sendiri. Kamu punya kesempatan untuk duduk dan berdialog dengan rasa takutmu. Kamu bisa menguliti rasa cemasmu lapis demi lapis untuk mencari tahu apa yang sebenarnya membuatmu begitu tegang. Sangat sering kamu akan menemukan kenyataan bahwa apa yang kamu takutkan hanyalah ilusi yang sengaja dibesar besarkan oleh pikiranmu sendiri. Ketakutan itu akan segera runtuh begitu kamu menyorotinya dengan cahaya kesadaran.
Ruang jeda kecil inilah yang mengembalikan kendali hidup ke tanganmu. Coba ingat saat kamu sedang mengendarai mobil di jalan raya dan sebuah kendaraan lain tiba tiba menyalip secara sembarangan. Insting pertamamu mungkin mendorongmu untuk menginjak pedal gas dalam dalam, membunyikan klakson panjang, dan membalas perbuatan pengemudi tersebut. Metakognisi memberimu waktu tiga detik yang sangat berharga. Tiga detik untuk menyadari bahwa membalas dendam di jalan raya berkecepatan tinggi tidak akan memberimu keuntungan apa apa selain risiko kecelakaan beruntun.
Saat dorongan primitif itu muncul menyuruhmu marah atau lari dari tanggung jawab, metakognisi memampukanmu menekan tombol jeda sesaat. Di ruang hening itulah kamu berpindah dari sekadar mode bertahan hidup menjadi manusia utuh yang berpikir rasional. Kamu punya kebebasan penuh untuk memilih respons yang lebih anggun ketimbang sekadar meledak marah.
Menjadi rasional dan berpikir jernih menuntut proses latihan yang panjang. Kemampuan ini adalah keterampilan yang memaksamu melawan arus insting alamiahmu sendiri. Otak kita didesain untuk selalu mencari jalan pintas guna menghemat energi. Merespons segala hal di sekitarmu dengan kemarahan atau ketakutan jauh lebih gampang dan hemat tenaga ketimbang kamu harus duduk tenang menelusuri akar permasalahannya secara utuh.
Cobalah amati reaksimu saat menghadapi masalah kecil yang membuat darahmu naik hari ini. Berhenti sejenak dan bertanyalah perlahan ke dalam dirimu sendiri. Kamu bisa mengevaluasi apakah kata kata yang akan keluar dari mulutmu nanti adalah hasil dari pemikiran jernih manusia yang matang atau hanya luapan insting makhluk primitif yang sedang merasa terancam lalu menggonggong pelan di dalam kepalamu.