Abstraction Thinking

The Art of Removing the Unessential
Seni Menemukan Inti di Tengah Kebisingan
Chapter 0 - Terjebak dalam Detail
Kamu pasti pernah terjebak dalam sebuah percakapan yang sangat melelahkan dengan seorang rekan kerja. Saat kamu bertanya mengenai apa masalah utama dari proyek yang sedang berjalan, dia mulai menceritakan segalanya dari awal. Dia bercerita tentang bagaimana klien telat membalas email minggu lalu, bagaimana cuaca pagi di kopo tadi membuat lalu lintas macet, hingga rincian warna tombol di aplikasi yang tidak sesuai selera atasan. Sepuluh menit berlalu dan kepalamu mulai terasa penuh. Kamu mengangguk pelan namun sama sekali tidak menangkap apa inti permasalahannya.
Di hari yang sama kamu bertemu dengan rekan kerjamu yang lain. Kamu menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya. Dia diam selama tiga detik, menatap langit langit ruangan, lalu memberikan satu kalimat pendek yang sangat tajam. Dia merangkum semua kekacauan proyek tersebut menjadi satu akar masalah operasional yang sangat jelas. Seketika kamu merasa lega dan langsung tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya.
Kunci perbedaan antara kedua rekan kerjamu itu terletak pada cara otak mereka menyaring informasi. Orang pertama menelan semua detail mentah mentah dan memuntahkannya kembali kepadamu tanpa disaring sama sekali. Orang kedua memiliki kemampuan tingkat tinggi untuk menyingkirkan semua drama yang tidak penting dan menyisakan satu kebenaran inti. Kemampuan menyaring informasi inilah yang kita sebut dengan pemikiran abstraksi.
Chapter 1 - Kesalahpahaman Makna
Mendengar kata abstraksi mungkin membuatmu teringat pada lukisan cat minyak di museum yang bentuknya tidak karuan. Istilah abstrak memang sudah terlalu sering dipakai di dunia seni rupa maupun filsafat untuk menggambarkan sesuatu yang rumit, melayang layang, dan sulit dicerna oleh akal sehat. Istilah ini lambat laun berubah menjadi semacam pelacur bahasa. Sebuah kata yang dipakai oleh banyak orang secara serampangan hanya agar mereka terdengar lebih pintar dan artistik. Seseorang bisa mencoret coret kanvas secara acak lalu menyebutnya sebagai karya abstrak yang diklaim punya makna mendalam.
Penggunaan kata abstrak yang bergeser maknanya ini sangat sering menyesatkan kita. Dalam konteks ilmu kognitif dan cara berpikir manusia, abstraksi punya tujuan yang berlawanan seratus delapan puluh derajat. Tujuan utama proses abstraksi menuntut kita membuang semua kerumitan yang menempel pada sebuah masalah hingga hanya tersisa tulang punggung utamanya saja.
Seseorang yang memiliki kemampuan abstraksi yang baik benci berbicara berbelit belit. Mereka menghindari penggunaan istilah yang diputar putar hanya untuk pamer intelektualitas. Otak mereka bekerja menyerupai alat saringan emas. Mereka akan mengambil segenggam pasir dan kerikil dari sebuah sungai permasalahan, menggoyang goyangkannya dengan keras, lalu membuang semua material yang tidak berharga. Pada akhirnya mereka hanya menyodorkan satu butir emas murni kepadamu. Emas murni itulah yang merepresentasikan inti dari masalah.
Chapter 2 - Peta Kereta dan Kebisingan Informasi
Cara paling mudah untuk memahami bagaimana abstraksi bekerja di dunia nyata adalah dengan melihat peta rute kereta komuter atau kereta bawah tanah. Kalau kamu mengamati peta jalur kereta di kota kota besar dunia, kamu akan menyadari bahwa garis garis di peta tersebut ditarik lurus dan sangat rapi. Jarak antar stasiun di gambar terlihat sama rata dan berurutan dengan warna warna yang mencolok.
Kenyataan di lapangan sangat jauh berbeda. Jalur kereta yang asli penuh dengan tikungan tajam, tanjakan bukit, dan jarak antar stasiun yang sangat bervariasi panjangnya. Pembuat peta sangat sadar bahwa penumpang kereta tidak peduli dengan lekukan rel atau kondisi geografis pepohonan di sekitar stasiun. Penumpang hanya punya satu kebutuhan utama yaitu mereka ingin tahu bagaimana cara pergi dari stasiun keberangkatan menuju stasiun tujuan.
Pembuat peta mengambil keputusan cerdas untuk membuang semua detail geografis yang tidak relevan itu. Dia melakukan proses abstraksi tingkat tinggi. Hasilnya adalah sebuah peta lurus sederhana yang bisa dibaca dan dipahami oleh turis asing sekalipun dalam waktu sepuluh detik. Kalau pembuat peta itu bersikeras memasukkan setiap tikungan sungai, bentuk bangunan, dan skala jarak yang seratus persen akurat, peta itu justru akan sangat memusingkan pembacanya. Terlalu banyak kebenaran detail terkadang malah mengaburkan fungsi utamanya.
Kita sangat membutuhkan kemampuan membuang kebenaran kebenaran kecil yang tidak relevan ini dalam kehidupan sehari hari. Di era kebebasan internet saat ini, masalah terbesar kita bukanlah kekurangan akses informasi. Masalah kita adalah kelumpuhan akibat terlalu banyak menerima informasi. Kita dibombardir oleh ribuan opini, rentetan data statistik, dan drama emosional setiap jamnya. Semua gempuran informasi ini menciptakan kebisingan luar biasa di dalam kepala kita.
Tanpa kemampuan abstraksi kamu akan terus menerus merespons setiap kebisingan itu seolah olah semuanya punya tingkat urgensi yang sama. Kamu akan kehabisan tenaga untuk mengurusi detail kecil yang sama sekali tidak berdampak pada hasil akhir. Pemikiran abstraksi bekerja sebagai pelindung mental dari kelumpuhan tersebut. Filter ini memampukanmu mendeteksi secara akurat mana sinyal yang benar benar penting dan mana sekadar kebisingan latar belakang yang harus segera diabaikan.
Chapter 3 - Ujian Anak Lima Tahun
Kabar baiknya otot abstraksi ini bisa dilatih dan diasah setiap hari. Kamu sama sekali tidak perlu mempelajari ilmu logika komputasi yang rumit untuk bisa menajamkan cara berpikirmu. Latihan paling efektif dan murah yang bisa langsung kamu coba adalah teknik menjelaskan masalah kepada anak usia lima tahun.
Setiap kali kamu merasa pusing menghadapi tumpukan pekerjaan yang rumit di kantor atau konflik yang melelahkan dalam hubungan pribadimu, ambil secarik kertas kosong. Cobalah tuliskan masalah tersebut dalam struktur bahasa yang sangat lugas. Bayangkan kamu sedang menceritakan masalah itu kepada keponakan kecilmu yang masih duduk di bangku taman kanak kanak.
Aturannya sangat ketat. Kamu dilarang keras menggunakan istilah teknis perbankan, jargon korporasi yang kebarat baratan, atau menyertakan alur drama tentang siapa yang berbicara dengan nada tinggi minggu lalu. Kamu dipaksa memutar otak untuk mencari padanan kata paling mendasar yang menjelaskan situasinya.
Sangat sering terjadi di tengah proses menulis ini kamu akan terhenti memegang pena. Kamu mendadak menyadari satu fakta pahit bahwa selama ini kamu sendiri belum mengerti apa akar inti masalahmu. Penjelasan yang terlampau rumit dan dipenuhi oleh keluhan emosional adalah pertanda utama pemahaman yang setengah matang. Kalau kamu tidak bisa menjelaskan masalahmu lewat narasi lugas tanpa alur cerita yang panjang lebar, kamu masih tenggelam di dasar lautan detail yang tidak berharga.
Memiliki pemikiran abstraksi membawa dampak positif yang melampaui urusan efisiensi kerja kantoran. Keterampilan ini menawarkan kacamata baru untuk memandang kehidupan yang seringkali terasa terlalu ruwet.
Coba ingat ingat kembali satu hal terberat yang membuat dadamu terasa sesak sepanjang minggu ini. Hapus semua nama orang yang terlibat di dalamnya. Hapus semua rekaman percakapan penuh emosi yang terjadi kemarin siang. Hapus semua skenario ketakutan tentang penilaian orang lain di masa depan. Tarik benang merah terkuatnya lalu lihat apa yang tersisa. Kamu mungkin akan terkejut melihat betapa sederhananya masalah utamamu begitu semua kebisingannya dibungkam.